Minggu, 15 Mei 2016

Women Struggle

Aku benci pada diriku yang tak bisa hidup dibawah tekanan, perkataan sang princess in walls lady diana. hal itu juga yang detik ini ku katakan pada diriku. Ya wanita yang haus kebebasan wanita yang tak pernah bisa mengontrol emosi dan egonya.
Dua hari ini aku mengalami pergolakan batin yang luar biasa, dimana aku tak bisa mengotrol mood ku sendiri, bahkan hanya untuk sekedar menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting dan dateline selesai hari ini aku tinggalkan dengan mengetik coretan murahan ini dan sesekali menonton video youtobe seakan-akan mencari alasan atau dasar teori entah dari ahli mana bahwa yang kulakukan saat ini adalah yang paling benar.
Aku berfikir keras untuk masa depanku, untuk sekedar coretan gambar yang bahkan tak ada yang memujinya bahkan mengatakannya sebagai suatu yang tak perlu diciptkan. Aku berfikir keras ketika harus memilih antara menjadi atau tidak sama sekali. Pagi ini aku melihat gambarku, gambar gaun yang lumayan glamour dalam benakku yang ku gambar dengan pensil seadanya. Begitu indah begitu membanggakan menurutku, aku bahagia aku bangga pada diriku sendiri, tapi berbeda ketika pagi ini aku mendengar ceramah dari seorang ilmuan muslim, Dr zakir kalau tidak salah dia memberikan ceramah tentang pakaian, pakaian yang seharusnya dipakai seorang muslim sejati, pertama dia mengatakan bahwa pakaian nya tidak boleh menyerupai laki-laki, aku tersenyum karena lolos seleksi, kedua pakaian tidak boleh terlalau mewah artinya tidak banyak bahan dengan manik-manik dan tidak berlipat sampai 2 helai aku kecewa bahkan baju ini lebih dari itu, kemudia dia melanjutkan baju tidak boleh sampai terawang atau tembus pandang aku mengangguk dan bergumam tentu saja tidak. Selanjutnya baju tersebut jangan sampai memperlihatkan lekuk tubuh aku pun terdiam karena esensi dari baju ini adalah wanita yang akan anggun dengan segala perhiasannya. Dan sekarang ditentang oleh seorang ilmuan ternama.
2 hari yang lalu aku memikirkan untuk mulai menfokuskan diriku pada passion ku saja. Aku mulai bersemangat aku pun mulai membayangkan dan mulai merancang apa saja yang harus aku siapkan dari sekarang dan bagaimana aku akan menjalaninya sampai kepada output dan resikonya. Aku mempertimbangkan dengan matang. Ya aku akan jadi desaigner, setelah lulus kuliah aku akan mengambil kursus sembari mengajar itu keputusan terbaik menurut ku. Aku akan menjadi wanita super sibuk dengan kegiatan positif itu. Aku akan meeting dengan orang-orang ternama dan akan menghasilkan uang banyak aku juga akan dikenal sebagai guru yang kreatif tentunya akan membanggakan keluarga. Namun pikiranku berhenti sejenak ketika aku melihat sebuah undangan pernikahan. Bukan karena aku ingin menikah, atau takut tak segera mendapatkan jodoh, tapi aku lebih hawatir tentang bagaimana aku akan menjalani kehidupan pernikahan nantinya. Akan jadi istri atau ibu seperti apa aku dikeluargaku nanti. Pertanyaan semacam itu muncul dan membuatku mencari-cari hakikat hidup, hakikat kebebasan dan hakikat perempuan. Yang mana harus aku pilih menjadi fatimah yang sebagai ibu dan istri yang berjuang untuk keluarganya atau menjadi fatimah dengan impiannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar