Aku
benci pada diriku yang tak bisa
hidup dibawah tekanan, perkataan sang princess in walls lady diana. hal itu
juga yang detik ini ku katakan pada diriku. Ya wanita yang haus kebebasan
wanita yang tak pernah bisa mengontrol emosi dan egonya.
Dua hari ini aku mengalami pergolakan batin yang luar biasa, dimana
aku tak bisa mengotrol mood ku sendiri, bahkan hanya untuk sekedar menyelesaikan
pekerjaan yang sangat penting dan dateline selesai hari ini aku tinggalkan
dengan mengetik coretan murahan ini dan sesekali menonton video youtobe
seakan-akan mencari alasan atau dasar teori entah dari ahli mana bahwa yang
kulakukan saat ini adalah yang paling benar.
Aku berfikir keras untuk masa depanku, untuk sekedar coretan gambar
yang bahkan tak ada yang memujinya bahkan mengatakannya sebagai suatu yang tak
perlu diciptkan. Aku berfikir keras ketika harus memilih antara menjadi atau
tidak sama sekali. Pagi ini aku melihat gambarku, gambar gaun yang lumayan
glamour dalam benakku yang ku gambar dengan pensil seadanya. Begitu indah
begitu membanggakan menurutku, aku bahagia aku bangga pada diriku sendiri, tapi
berbeda ketika pagi ini aku mendengar ceramah dari seorang ilmuan muslim, Dr
zakir kalau tidak salah dia memberikan ceramah tentang pakaian, pakaian yang
seharusnya dipakai seorang muslim sejati, pertama dia mengatakan bahwa pakaian
nya tidak boleh menyerupai laki-laki, aku tersenyum karena lolos seleksi, kedua
pakaian tidak boleh terlalau mewah artinya tidak banyak bahan dengan
manik-manik dan tidak berlipat sampai 2 helai aku kecewa bahkan baju ini lebih
dari itu, kemudia dia melanjutkan baju tidak boleh sampai terawang atau tembus
pandang aku mengangguk dan bergumam tentu saja tidak. Selanjutnya baju tersebut
jangan sampai memperlihatkan lekuk tubuh aku pun terdiam karena esensi dari
baju ini adalah wanita yang akan anggun dengan segala perhiasannya. Dan sekarang
ditentang oleh seorang ilmuan ternama.
2 hari yang lalu aku memikirkan untuk mulai menfokuskan diriku pada
passion ku saja. Aku mulai bersemangat aku pun mulai membayangkan dan mulai
merancang apa saja yang harus aku siapkan dari sekarang dan bagaimana aku akan
menjalaninya sampai kepada output dan resikonya. Aku mempertimbangkan dengan
matang. Ya aku akan jadi desaigner, setelah lulus kuliah aku akan mengambil
kursus sembari mengajar itu keputusan terbaik menurut ku. Aku akan menjadi
wanita super sibuk dengan kegiatan positif itu. Aku akan meeting dengan
orang-orang ternama dan akan menghasilkan uang banyak aku juga akan dikenal
sebagai guru yang kreatif tentunya akan membanggakan keluarga. Namun pikiranku
berhenti sejenak ketika aku melihat sebuah undangan pernikahan. Bukan karena
aku ingin menikah, atau takut tak segera mendapatkan jodoh, tapi aku lebih
hawatir tentang bagaimana aku akan menjalani kehidupan pernikahan nantinya. Akan
jadi istri atau ibu seperti apa aku dikeluargaku nanti. Pertanyaan semacam itu
muncul dan membuatku mencari-cari hakikat hidup, hakikat kebebasan dan hakikat
perempuan. Yang mana harus aku pilih menjadi fatimah yang sebagai ibu dan istri
yang berjuang untuk keluarganya atau menjadi fatimah dengan impiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar